Dugaan Fee Rp1 Miliar ke Anggota BPK Achsanul Qosasi Diusut KPK

Sumber : cnnindonesia.com

Dugaan Fee Rp1 Miliar ke Anggota BPK Achsanul Qosasi Diusut KPK – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan akan menindaklanjuti beberapa nama program bantuan sosial (bansos) yang diduga terkena Covid-19 pada Senin (8/3) yang menerima dana korupsi.

Dugaan Fee Rp1 Miliar ke Anggota BPK Achsanul Qosasi Diusut KPK

Sumber : cnnindonesia.com

 Baca Juga : Kejagung Diminta Ajukan Kasasi Pengurangan Vonis Terpidana Jiwasraya Hary Prasetyo

cdstreet – Beberapa nama yang dikenal sebagai pemotongan iuran bansos itu antara lain Achsanul Qosasi, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan Hotma Sitompul, pengacara pendekar Cita Citata.

Nama mereka berdasarkan keterangan saksi mata Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono, dan sebenarnya mereka adalah bawahan Juliari Peter Batubara, mantan Menteri Sosial.

Ali mengatakan dalam pesan tertulisnya, Selasa (9/3), bahwa: “Mengenai keterangan saksi tentu saja tim jaksa penuntut (jaksa) akan melakukan konfirmasi dengan saksi lain yang akan hadir di persidangan.”

Ali mengatakan, keterangan saksi akan dianalisis dalam surat tuntutan nanti. Ia lantas mengajak masyarakat untuk terus memantau proses persidangan.

Ia mengatakan: “Kami mengajak masyarakat untuk terus memperhatikan dan memantau persidangan yang terbuka untuk umum.”

Ketika ditanya tentang sidang dan peninjauan partai, Ali menjelaskan bahwa itu tergantung pada perlunya penyelidikan untuk membuktikan perilaku terdakwa.

Dia menyimpulkan: “Jika saksi dan alat bukti yang ada cukup untuk membuktikan unsur-unsur klausul perilaku tersangka, kami yakin bahwa [peninjauan] tidak perlu. Begitu pula sebaliknya.”

Sebelum persidangan, terungkap nama-nama beberapa orang, dan orang-orang ini juga mendapat penghasilan dari bantuan sosial yang korup. Mereka anggota BPK Achsanul, Rp 1 miliar, Pengacara Hotma Sitompul Rp 3 miliar, pendekar Cita Citata 150 juta rupiah.

Dikatakan, uang yang diberikan kepada Hotma merupakan honor pengacara untuk kasus yang saat ini dihadapi Kementerian Sosial. Bersamaan dengan itu, Cita Citata menerima uang tersebut saat menghadiri acara di Kementerian Sosial di Naban Bajo. Namun, pengadilan tidak menyebutkan niat mendonor kepada Achsanul.

Achsanul sendiri adalah anggota III BPK. Misi dan kewenangannya mengaudit pengelolaan keuangan nasional dan tanggung jawab berbagai departemen, salah satunya Kementerian Sosial. seperti yang dilansir cnnindonesia.com

Achsanul belum menanggapi konfirmasi tentang apa yang disebut penerimaan Rp1 miliar tersebut.

Mengenal Achsanul Qosasi

Seleksi calon bagian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) udah memasuki tahapan fit and proper test di DPR. Dalam tahapan kali ini terkandung nama Achsanul Qosasi berasal dari petahana BPK.

Dalam struktur kepengurusan BPK periode 2014-2019, Achsanul mengemban jabatan sebagai bagian III BPK RI yang berwenang mengawasi keuangan instansi legislatif, yudikatif, BPK, lebih dari satu kementerian dan instansi pemerintah non-kementerian.

“Maju kembali di BPK, orang jawabnya aku idamkan mengabdi apa? bagi aku simple, aku punyai peluang untuk kembali terpilih, periode aku masih mungkin, usia aku juga masih kemungkinan dan sepanjang ini aku terasa apa yang aku laksanakanbuat kebutuhan BPK serta buat membenarkan finansial Negeri terpakai dengan bagus serta betul itu terjalin bagus,”

Dirinya pula berkata kalau prioritasnya di BPK merupakan pemeriksan yang mempunyai kwalitas serta berguna. Achsanul tdk bersedia BPK cuma tiba mencari galat tetapi tidak ada khasiatnya buat auditing.

“Makanya tagline aku dalam proposal aku dan aku udah 5 th. tersedia di BPK, kenyataan yang paling kritis bikin BPK adalah pengecekan yang berguna bagi auditing. Alhasil kepada sedangkan kita timbul berawal dari kir itu berakhir kir kita sampaikan lebih dari satu perihal audit itu berkata demikian ini dapat kasih berkah BPK kita nyata kekeliruan kita dimana, kekurangan kita dimana, kelalaian kita dimana. Ia melafalkan menyambut kasih serta bukan kekhawatiran, nah itu kir yang bermanfaat serta bermutu,” tegasnya.

Achsanul juga menjawab mengenai kesangsian penduduk mengenai integritas, profesionalisme, dan independence, kepada dirinya yang punyai background orang partai politik (parpol). Beliau berkata kalau 3 perihal berikutnya akan selamanya ditetapkannya kepada sistem auditing, karena pengalaman dalam finansial malah lebih banyak dari di politik.

“Orang mengatakan Achsanul Qosasi ini orang politik, aku selamanya dikaitkan kalau aku ini orang politik. Seolah-olah orang politik itu sepenuhnya salah, orang politik itu tidak bisa berkecimpung dimanapun, cuma di Parpol saja, ia tidak bisa mengabdi dimanapun . Mereka tidak tahu, berasal dari 30 th. pengabdian aku di keuangan, aku hanya 5 th. di Parpol, 20 th. aku tersedia di professional sebagai Bankir, masa ini nggak dicatat,” tuturnya.

Ia menghendaki supaya penduduk tidak terbujuk gara-gara background politiknya. Karena dengan background selanjutnya dirinya yakin pengalaman berkarir di keuangan bakal semakin lengkap.

“Saya hanya 5 th. di politik seolah-olah orang politik nggak boleh (ikut seleksi BPK). Justru aku masuk politik aku menjadi lebih jelas bagaimana tata negara, bagaimana tata kelola APBN, postur APBN. Di politiklah di Komisi XI lah aku studi itu. Nggak fair juga aku katakan ini politisi ini nggak boleh, aku 20 th. diprofesional, Bankir hingga dengan Dirut. Kalau di dalam ilmu keuangan tersedia Maker, Checker, Approval, itu udah aku lewati semua. Terus saat ini sebagai controller sebagai auditor ya semakin sempurna,” jelasnya.

 Baca Juga : Berujung Kritik, Hilang Frasa ‘Agama’ di Visi Pendidikan 2035

Audit keuangan menang bukan hal baru bagi pria kelahiran Sumenep 1966 ini. Di awal kariernya, Achsanul tempati posisi mutlak di sejumlah bank. Pada 1990-1993 ia menjabat sebagai assistant manager corporate banking di Bank Bukopin. Sejak tahun 2001 sampai 2004, Achsanul berprofesi selaku ketua angsuran serta program di Bank Persyarikatan Indonesia yang sedangkan ini udah bertukar julukan jadi Bank Syariah Bukopin .Beliau pula luang memeriksa posisi selaku komisaris di Bank Perkreditan Orang Luwuk- Sulawesi Tengah semenjak 2007. kiara kepada 2013.

Ia juga sempat menjabat sebagai wakil ketua Komisi XI DPR RI yang ruang lingkup kerjanya terhadap bidang keuangan dan perbankan. Selama menggerakkan tugasnya sebagai bagian dewan, ia bermitra dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), instansi keuangan bukan bank (LKBB), Ot0ritas jasa Keuangan , & perbankan.

Kala berprofesi selaku bagian DPR RI rentang waktu 2009 – 2013 selaku perwakilan berawal dari Partai Demokrat, Achsanul masuk selaku bagian Badan Spesial( Pansus) Hak Angket Bank Century . Tidak hanya Pansus Hak Angket Century, Achsanul pula lebih dari satu kali ikut serta dalam publikasi RUU di aspek ekonomi serta finansial. Salah satunya selaku pimpinan pansus RUU Finansial Negeri kepada 2013.

Menurut catatan biografi Achsanul di laman formal BPK, lulusan Magister Economic Science Jose Rizal University, di Filipina ini sempat dapat gelar Enterpreneur of The Year 2007 berasal dari Departemen Perindustrian RI. Ia juga menyabet penghargaan sebagai The Best Moslem Enterpreneur terhadap 2008 berasal dari Departmen Agama dan Departemen Perindustrian